Friday, 18 September 2026 |
Iklan

Agama Tak Hanya Bicara tentang Langit, tapi Bekerja untuk Bumi
AGAMA

Agama Tak Hanya Bicara tentang Langit, tapi Bekerja untuk Bumi

KUA Tlogosari 18 Aug 2026

Berikut Pesan Menag pada HUT RI Tahun 2026 dari Pusat Kemenag Jakarta.

Hari ini kita peringati 81 tahun Indonesia merdeka. Kemerdekaan bukan hadiah. Ia lahir dari perjuangan, pengorbanan, darah, air mata, dan doa para pendahulu kita.

Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan terjadi atas berkat rahmat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itu, kemerdekaan bukan hanya untuk dirayakan, tapi amanah untuk
disyukuri dan diwujudkan.

Sejarah mencatat, para tokoh agama dan umatnya ikut berdiri di garis depan perjuangan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ulama, pendeta, pastor, pandita, bhikkhu, dan tokoh agama lainnya telah menanamkan keberanian, persatuan, dan cinta tanah air. Hari ini, tugas kita adalah mengisi kemerdekaan dengan ilmu, kerja keras, integritas, inovasi, dan pengabdian.

Indonesia besar karena keberagaman. Karenanya, kerukunan jadi
modal dasar pembangunan. Tanpa kerukunan, bangsa ini sulit
bertumbuh dan maju. Indeks Kerukunan Umat Beragama kita terus
meningkat, dari 76,47 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025. Ini
pencapaian tertinggi. Indeks Kesalehan Umat Beragama 2025,
juga mencapai 84,61.

Kondisi ini harus kita syukuri. Jangan biarkan perbedaan jadi
alasan bermusuhan. Jangan biarkan agama jadi alasan saling
menjauh. Jadikan agama dan nilai-nilainya sebagai jalan untuk
saling menguatkan dan memberikan makna kehidupan.

Rumah ibadah harus menjadi tempat yang menenteramkan.
Madrasah, pesantren, majelis taklim, sekolah minggu, pasraman,
widyalaya, dan ruang kajian keagamaan harus menjadi tempat
tumbuhnya ilmu dan akhlak. Agama harus menjadi sumber
pencerahan, kedamaian, serta kemaslahatan.

(ilustrasi) ASN Kemenag mengikuti upacara peringatan HUT ke-81 RI di halaman kantor pusat Kemenag, Jakarta, Senin (17/8/2026)

Kementerian Agama juga terus mendorong pendidikan yang tidak
hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk karakter.
Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, kita ingin melahirkan peserta
didik yang berkarakter dan toleran. Melalui program Ekoteologi,
kita menggerakkan aksi nyata pelestarian alam untuk mendukung
Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (Asri).

Kita harus menjadi bagian penting dari pembangunan nasional.
Saat ini tercatat lebih dari 11,8 juta siswa dan santri telah menerima
manfaat Program Makan Bergizi Gratis. Lebih dari 5,1 juta siswa
binaan Kementerian Agama menerima manfaat Program Indonesia
Pintar. Peningkatan kompetensi guru dan dosen melalui pendidikan profesi naik 700 persen dari sebelumnya, sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan mereka.

Tentu, di balik setiap angka ada manusia. Ada anak yang sedang
bermimpi. Ada guru yang sedang mengabdi. Ada keluarga yang
sedang berharap. Karena itu, jangan bekerja hanya untuk menyelesaikan program, tapi untuk menyelesaikan persoalan.
Setiap kebijakan harus terasa manfaatnya. Setiap rupiah anggaran
harus kembali pada umat. Setiap pelayanan harus memudahkan.

Saat ini kita memasuki zaman baru. Artificial Intelligence telah
mengubah cara kita belajar dan bekerja. Tetapi ada satu hal yang
tidak boleh berubah, yaitu kemanusiaan.

AI boleh semakin cerdas, tapi manusia harus tetap bijaksana.
Teknologi boleh semakin maju, tapi akhlak tidak boleh tertinggal.
Di tengah era post-truth, ketika informasi palsu dapat terlihat
seperti kebenaran, Kementerian Agama harus memperkuat literasi
digital sekaligus literasi keagamaan.

Jangan sampai teknologi yang seharusnya mendekatkan manusia
justru menyebarkan kebencian, menghasilkan kebohongan, lalu
kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Jangan sampai
kemajuan teknologi membuat manusia kehilangan hati nurani.

Mengisi kemerdekaan juga berarti mengubah nilai agama menjadi
kekuatan sosial. Pada tahun 2025, penghimpunan zakat telah
mencapai Rp44,6 triliun dan memberi dampak bagi lebih 149 juta
penerima manfaat. Demikian juga filantropi keagamaan lainnya,
seperti kolekte, dana punia, paramita, Shan-si juga terus tumbuh
menjadi kekuatan ekonomi umat yang memberdayakan. Inilah
agama yang hadir, yang tidak hanya bicara tentang langit, tetapi
juga bekerja untuk bumi.

Relevan dengan itu, saat saudara-saudara kita di Nusa Tenggara
Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah berduka karena
gempa bumi, mari tengadahkan tangan kita untuk berdoa kepada
Zat Yang Maha Berkehendak, kiranya mereka yang wafat diberikan
kemuliaan di sisi-Nya. Bagi mereka yang sakit segera diberikan
kesembuhan. Dan bagi mereka yang terdampak diberikan
ketabahan dan percepatan pemulihan, baik lahir maupun batin.

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka mengajarkan kepada
kita, bahwa kemerdekaan adalah hasil perjuangan para pahlawan
bangsa yang diwariskan kepada kita untuk dijaga. Jika dahulu
mereka mengangkat senjata, hari ini kita mengembangkan ilmu
dan memanfaatkannya untuk kebaikan bagi manusia dan alam
raya. Jika dahulu mereka bertaruh nyawa, hari ini kita harus
mempertaruhkan integritas.

Mari kita bekerja dengan kesungguhan, melayani dengan tulus,
merawat kerukunan, menguasai teknologi tanpa kehilangan etika,
serta jadikan agama sebagai sumber kedamaian, persatuan, dan
kemajuan bangsa. Bangsa besar tidak hanya dibangun oleh
ekonomi dan teknologi. Bangsa besar juga dibangun oleh kekuatan
doa, keluhuran akhlak, dan kokohnya persatuan.

Mari kita wariskan kepada generasi penerus, Indonesia yang lebih
maju, lebih rukun, dan lebih bermartabat untuk mewujudkan
Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur.

Dirgahayu Republik Indonesia! Merdeka! Merdeka! Merdeka!

(amanat ini disampaikan Inspektur Upacara Menag Nasaruddin Umar dalam upacara peringatan HUT ke-81 RI di halaman kantor pusat Kemenag)

Dikutip dari Media Kemenag RI Jakarta